Dinamika Menuju Ekonomi Baru

Dinamika Menuju Ekonomi Baru

Dinamika menuju ekonomi baru.

Dinamika Menuju Ekonomi Baru

(Source)

Data Sebagai Industri Baru

Industri perminyakan dengan infrastruktur hulu dan hilir seakan berdiri kokoh. Sedangkan di pusat pengolahan data, terlihat lebih meragukan, pasif, dan “powerless” dibalik dinding. Namun keduanya memiliki persamaan dimana penyimpanannya sesama didalam pipa.

Dalam industri perminyakan pipa-pipa tersebut menyimpan butane, propane, petrol dan komponen lain dari minyak mentah untuk dimurnikan—pusat pengolahan data, pipa tersebut menyalurkan data mentah yang nantinya diubah menjadi sumber informasi. Keduanya juga memiliki peran yang sama krusial untuk perekonomian secara global. Tanpa komponen minyak—plastik, obat-obatan, dan pakaian tidak akan tercipta. Kegiatan sehari-hari maupun bisnis juga tidak terasa mudah tanpa adanya data. Pemerintah menggunakan database untuk mencatat pajak penghasilan, rumah sakit menggunakan database untuk melihat riwayat penyakit pasiennya, dan aplikasi berbasis dapat online berjalan karena adanya database.

Data telah membentuk infrastruktur baru, sektor bisnis baru, bahkan sistem ekonomi baru dimana data merubah peraturan permintaan dan penawaran di pasar. IDC, perusahaan riset memprediksi bahwa data yang akan terkumpul ditahun 2025 mencapai 180 zettabytes (180 x 1021). Untuk mempercepat proses pengolahan data menjadi informasi, Amazon sebuah situs belanja online yang didukung oleh teknologi komputasi awan menggunakan sebuah container dengan masing masing muatan 100 petabytes (100 x 1015). Di tahun 2016, Amazon, Alphabet, dan Microsoft sama sama mengeluarkan biaya $32bn hanya untuk penanaman infrastruktur data, meningkat 22% dari tahun sebelumnya menurut Wall Street Journal.

It is what you know

Seperti yang kita tahu, nilai dari suatu data kian meningkat mengingat pemanfaatannya bisa menjadi solusi atas berbagai macam hal. Salah satunya Facebook dan Google menggunakan data yang mereka kumpulkan dari user untuk mempelajari perilaku dan preferensi mereka, sehingga pesan dapat tersampaikan secara tepat. Beberapa tahun belakangan, Facebook dan Google menemukan bahwa data juga bisa dimanfaatkan untuk kecerdasan artifisial atau cognitive services. Beberapa servis diantaranya adalah translasi bahasa dan pengenalan wajah.

Perusahaan tidak henti-henti mencari sumber data baru sebagaimana Facebook menggunakan algoritma untuk mengenali wajah baik dari private photo maupun tagged photo, dan membuat Facebook dapat mengenali 98% wajah manusia secara akurat. Uber, perusahaan transportasi online merupakan perusahaan dengan valuasi sebesar $68bn dimana mayoritas value perusahaan berasal dari data. Nexar, sebuah aplikasi dari Israel memiliki cara yang cerdas untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan berkendara, dengan mengumpulkan data melalui dashcam untuk merekam pergerakan pedal rem dan kaki driver. Dengan asumsi adanya kecelakaan atau jalanan rusak ketika ada pergerakan abnormal dari kaki dan pedal rem.

Selayaknya di industri perminyakan, perusahaan data yang lebih besar semakin mendominasi dan menggerus perusahaan kecil. Namun pada kenyataannya, tidak seperti minyak yang diperjualbelikan berdasarkan nilai intrinsiknya—data merupakan aset yang cukup sulit diperjualbelikan

Data sebagai privasi

Mengingat biaya transaksi data di pasar pun cukup  mahal, pencarian informasi, negosiasi, kontrak—lebih mudah jika semua dilakukan in-house. Di tahun 2015, IBM menghabiskan uang sebanyak $2bn atau setara dengan Rp 26,7 Triliun untuk mengakuisisi Weather Company sehingga IBM dapat memperkaya sumber data dan infrastrukturnya.

Tidak seperti barang dagang lainnya, data bukanlah suatu komoditas. Setiap data memiliki informasi yang berbeda baik dalam hal kelengkapan, relevansi data, dan seberapa akurat data tersebut membuat sulit untuk menetapkan harga data di pasaran. Namun sekarang peneliti sedang mengembangkan metode pricing baru dengan mengelaborasikan ilmu “infonomics” yaitu pembelajaran memvaluasi data menjadi sesuatu bernilai ekonomi. Lain hal nya dengan komoditas minyak bumi, data merupakan barang non rivalry dimana barang tersebut tidak diperebutkan keberadaannya karena data dengan mudah diperbanyak lalu digunakan. Artinya, data dengan mudah dipakai oleh siapa saja. Lalu, bagaimana dengan kepemilikan resmi data?

Jika minyak dan gas kepemilikannya bergantung kepada daerah eksplorasi dengan 10% kepemilikan untuk daerah asal, sedangkan data bisa dikategorikan sebagai multi-ownership. Dalam proses manufaktur self-driving car, data tidak hanya dimiliki oleh perusahaan tapi juga oleh supplier material, distributor, dan calon pemilik mobil itu sendiri. “Markets and Privacy” sebuah artikel oleh Kenneth Lauren dari New York University mengatakan bahwa belum ada peraturan resmi dari pemerintah yang mengatur perlindungan informasi pribadi—lebih kepada self-regulation.

Ironi, terlepas dari hal tersebut, mereka yang dengan mudah memberi informasi personal demi “free services” justru merasa privasinya tereksploitasi ketika informasinya disebarluaskan.

Dinamika Menuju Ekonomi Baru

Bagaimana menurut Anda artikel berjudul “Dinamika Menuju Ekonomi Baru”? Apakah benar yang kita alami sekarang dimana ekonomi baru merujuk kepada data? Diskusikan dengan kami untuk menerapkan data sebagai salah satu nilai terpenting bagi bisnis Anda dengan menghubungi tim saya, Mba Euis dinomor whatsapp berikut 0815 8690 2500

Selain itu kami memiliki bacaan yang dapat Anda simak mengenai bisnis seperti:

Aset yang Tidak Lagi Sekedar Setumpuk Informasi

Pentingnya Jasa Akuntansi untuk Usaha yang Baru Berdiri

Understanding Customer Behavior to Maximize Business Development

PT SUN ARTHA PUTRA MANDIRI
ask@sunartha.co.id

Source



2 Comments

Leave a Reply

eight + fourteen =